Rabu, 05 Januari 2011

PERUSAHAAN TOYOTA

Budaya Toyota

Kesuksesan Toyota sebagai korporasi mobil nomor wahid di Jepang menjadikan banyak perusahaan terinspirasi untuk ikut menerapkan ‘Toyota Way’ namun
gagal.
Tak heran jika kemudian Liker dengan bantuan David Meier kemudian meluncurkan dua buku susulan yaitu ‘Toyota Way Fieldbook’ sebagai buku penduan dan ‘Toyota Talent’ untuk mengelola SDM dengan cara Toyota.
Kini Liker meluncurkan hal yang paling penting yaitu ‘Toyota Culture’ yang diharapkan bisa membawa pembaca lebih mendalami filosofi dan sejarah manajemen
Toyota.
Memahami kunci sukses Toyota penting sebab untuk melakukan adopsi cara Toyota berbisnis diperlukan pemahaman tentang cara Toyota memandang dunianya, menjalankan bisnisnya dan budaya yang melandasi prinsip-prinsip manajemen di produsen mobil terbesar di dunia tersebut.
Jelas tidak mudah mengadopsi budaya yang telah dikembangkan Kiichiro Toyoda itu bahkan penulis buku ini, Jeffrey K. Liker pun butuh waktu 20 tahun untuk benar-benar mendapat gambaran tentang pabrikan kendaraan ini.
Tentu sudah banyak pembaca yang mengerti Toyota memiliki banyak metode peningkatan kualitas yang sekarang populer di kalangan pelaku industri, seperti just in-time, one-piece flow, kaizen, jidoka, dan heijunka.
Namun, keberhasilan Toyota tak hanya dari teknik-teknik tersebut, melainkan juga berkat kemampuannya menumbuhkembangkan kepemimpinan, tim, budaya untuk mencetuskan strategi, membangun hubungan dengan pemasok, serta mempertahankan organisasi yang selalu belajar.
Sebagai buku keempat, Liker dalam pustaka setebal 562 halaman yang terbagi dalam lima bab ini mengajak pembacanya masuk dalam analisis dalam setiap kasus penerapan ‘Toyota Way’ yang kadang gagal.
Penulis tetap setia pada pola penulisan ‘Toyota Way’ yang mengajak pembaca selalu menengok 14 prinsip bisnis a.l. pengambilan keputusan berdasarkan jangka pendek, meski mengorbankan keuangan jangka pendek dan pemerataan beban kerja (heijunka).
Begitu juga prinsip lainnya seperti penggunaan kendali visual agar tidak ada masalah yang tersembunyi, melihat sendiri untuk memahami fakta (genchi genbutsu), peningkatan berkesinambungan (kaizen), dan refleksi diri tanpa krompomi (hansei).
Meski didedahkan lebih terperinci, Liker tetap menekankan konsistensi para top manajemen Toyota untuk selalu mempraktekkan budaya dasar mereka secara nyata sekaligus melakukan transformasi menyeluruh terhadap sistem kerja dan kebijakan pengelolaan karyawannya.
Konsistensi melakukan budaya dasar dan transformasi kulural ini dilakukan secara masif sehingga berhasil memengaruhi budaya yang dibawa oleh orang-orang baru. Liker menyebut ‘budaya barat.’
Tabrakan dua budaya ini diberikan porsi tersendiri dalam setiap bagian pembahasan. Mulai dari sekadar cara berpikir, budaya bangsa di tiap-tiap negara hingga sistem penilaian kerja.
Dalam buku ini penulis sangat teliti memasukan elemen-elemen manajemen Toyota hingga ke bagian terkecil. Liker bahkan menyempatkan memberi sesi khusus pelayanan kesehatan yang diberikan Toyota pada karyawannya.
Tentu saja setelah membaca buku ini tidak serta-merta membuat Anda dapat mengubah perusahaan Anda dengan kultur dan potensi seperti Toyota. Bagaimanapun filosofi, proses, SDM, dan pemecahan masalah di perusahaan Anda harus mencari sendiri budayanya yang unik, praktis dan tak kalah jeniusnya.

KELEBIHAN

Kekuatan dan kelemahan PT.Toyota

Analisis Kekuatan dan Kelemahan Produk dari PT.Toyota
Strenght (kekuatan)
1) Pengembangan konsep Produk Inovatif dengan melakukan pengembangan produk untuk mencapai customer satisfaction, sebagai contoh : Toyota Avanza 1,5 1500cc merupakan produk inovatif dari Toyota Avanza 1,3 1300cc. Sedangkan Produk Kreatif dengan melakukan terobosan baru terhadap pasar, sebagai contoh : Toyota Rush yang merupakan produk yang diharapkan dapat menembus pangsa pasar SUV domestik.
2) Brand Image yang sangat kuat di benak konsumen. Dengan Merk Toyota memberikan keyakinan kepada konsumen akan kualitas.
3) Harga yang terjangkau untuk kelas SUV dibandingkan dengan kompetitor yang ada di pasar domestik.
4) Dengan diluncurkannya produk Toyota Rush di pangsa pasar SUV ini, menimbulkan nilai tambah bagi toyota itu sendiri. Dengan kata lain, Toyota menyediakan produk-produk yang berkualitas dengan interval harga yang dapat mencakup hampir semua segmen daya beli konsumen untuk pasar domestik.
5) Penggunaan komponen lokal sekitar 72%, dari ASEAN 9%, dan dari Jepang 19%.untuk Rush dan Terios.
6) Penerapan sistem distribusi yang baru dengan pendekatan Just in Time menjadikanToyota merupakan manufaktur otomotif yang tidak memiliki warehouse produk jadi. Hal ini yang menjadikan keunggulan produk Toyota yang lebih murah dari kompetitornya.
7) Penerapan strategi 3W : Winning Team untuk melaksanakan Winning Concept dengan Winning System dinilai sangat ampuh untuk menciptakan kompetitive advantage perusahaan.
Mengapa setelah beberapa dekade para perancang mobil Amerika  gagal untuk menduplikasi sistem manufaktur mobil Toyota yang hiper-efisien? Pertanyaan inilah yang dikemukakan Gary Hemel bersama Bill Breen, penulis buku laris berjudul The Future of Management (2007, Harvard Business School Press,USA). Seharusnya setelah dua dekade perusahaan-perusahaan mobil Amerika melakukan benchmarking, mereka juga bisa sejajar dengan Toyota. Tetapi mengapa tidak terjadi?
Jawabannya adalah bahwa karakter pabrik Toyota memiliki beberapa keunggulan: (1) hampir tak ada satu pun perusahaan mobil yang  tingkat kerusakan produksinya begitu sedikit dengan alokasi waktu kerja yang relatif hemat seperti Toyota; (2) keunggulan Toyota juga terletak pada budaya kerjanya yang disebut wa dan nemawshi yaitu spirit kerjasama dan konsultasi manajemen dengan karyawan; ini sebagai salah satu keunikan bangsa Jepang; di Amerika hal ini sulit terjadi; (3) ketika Toyota mendirikan pabriknya di USA, kultur tersebut tersebut tetap eksis; (4) proses produksi mendasarkan diri pada otomatisasi, keeratan hubungan dengan sistem pemasok, penerapan sistem just-in-time; sementara walau hal itu diterapkan pada perusahaan-perusahaan Amerika tetapi ternyata masih kalah unggul dengan Toyota; dan (5) keunggulan Toyota tak mungkin tercapai tanpa didasarkan pada kapabilitas karyawan dan tanggung jawab para pemimpinnya yang tinggi.
Salah satu yang membedakan sistem manufaktur dengan perusahaan mobil Amerika yaitu Toyota memposisikan karyawan lini pertama sebagai pemeran segalanya ketimbang mesin produksi itu sendiri. Artinya mereka dikembangkan lewat pelatihan-pelatihan berkelanjutan dan diberikan instrumen kerja yang sangat baru dan lengkap. Mereka dibentuk untuk menjadi perencana-pengambil keputusan, inovator, dan agen perubahan. Dan upaya-upayanya tak pernah berhenti. Bagaimana perusahaan Amerika? Pemain utama inovasi tidak terletak pada karyawan tingkat lini. Mereka mengandalkan pada para akhli untuk mengembangkan perbaikan-perbaikan mutu dan efisiensi. Karena itu untuk mengejar ketinggalannya, perusahaan Amerika bekerja keras mengembangkan kemampuan intelektual para karyawannya. Jelas saja mereka harus mengeluarkan ongkos yang mahal untuk menerapkan sistem inovasi manajemen yang kental dengan paham feodal intelektual. Terlalu menghargai kalangan intelektual.
Jadi intinya, suatu inovasi manajemen cenderung menghasilkan keunggulan kompetitif ketika satu atau lebih dari tiga syarat dipenuhi. Yang pertama adalah inovasi didasarkan pada prinsip manajemen baru dengan meninggalkan sisi-sisi yang orthodox; kedua bahwa inovasi merupakan suatu proses yang sistemik dari suatu proses dan metode yang digunakan; dan ketiga, inovasi merupakan bagian dari suatu program invensi jangka panjang yang tak pernah berhenti. Kemudian peran karyawan (sumberdaya manusia) sebagai inovator sekaligus agen pembaharu menjadi sangat penting dalam menciptakan keunggulan. Dalam hal ini  peranan budaya kerja sangat strategis.

KEKURANGAN

Weakness (kelemahan)
1) Perbedaan persepsi antara pasar domestik dengan pasar internasional tentang kelas produk Toyota Rush. Pihak Toyota sendiri mengklaim bahwa Toyota Rush ditempatkan pada kelas Mid-Class SUV. Sedangkan kriteria kapasitas cc kelas Mid-Class SUV sendiri adalah 1500cc <>
2) Sistem Indent yang mengecewakan konsumen. Kadang-kadang konsumen membatalkan proses pemesanan karena kecewa akan janji yang diberikan oleh pihak dealer Toyota.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar